ROKET MEMBAWA MUATAN MULTIMANFAAT
Pengembangan roket mulai menyedot perhatian dunia ketika difungsikan sebagai peluru kendali pada perang dunia II dan menjadi wahana pengorbit Satelit Sputnik pada tahun 1957. Di luar itu masih ada beberapa aplikasi lai yang dapat di muatkan pada roket. Uji cobanya dilakukan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional medio di bantul.
Di kejauhan tampak jajaran roket-roket menghadap ke laut lepas Samudera Hindia. Roket itu tergolong kecil karena hanya berdiameter 100 milimter danjangnya sekitar 1 meter. Roket-roket tersebu meski satu ukuran, namun ternyata tak semuanya bermuatan. Pada kesempatan pertama akan diluncurkan roket yang di muati tabung Flare (suar) untuk modifikasi cuaca. Roket itu rancangan Prof Dr Untung Haryanto, peneliti dari Unit Pelaksana Teknik Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan teknologi.
Roket itu dapat menjangkau ketinggian hingga 3 kilometer, tepat berada di dasar awan hujan. Pada posisi itu gas di dasar tabung akan mendorong keluar pipa flare di atasnya yang di lengkapi dengan parasut sehingga terjadi separasi. Flare itu bergaris tengah 6,5 sentimeter dan panjangnya 20 sentimeter. Di salah satu ujung pipa flare terdapat bahan pemicu untuk membakar flare. Flare itu mengandung berbagai senyawa antara lain kalsium, kalium, dan klorida. Keika melayang dengan parasut di dekat dasar awan, unsure-unsur tersebut akan masuk ke dalam awan terdorong arus udara naik.
Penggunaan roket juga memliki keuntungan. Untuk TMC, dengan roket akan menggeser penggunaan pesawat terbang, yang selain memerlukan landasan, juga terbatas beroperasi pada pagi dan siang hari. Dengan roket, penyemaian awan dapat dilakukan juga pada sore dan malam hari serta dikawasan pegunungan. Selain mudah, roket hujan buatan juga murah pengoperasiannya. Untuk membuat dan menerbangkan flare seberat 500 gram di perlukan dana sebesar RP 500.000. Adapun pengoperasian dengan pesawat terbang menelan biaya Rp 500 juta. Di beberapa negara, seperti di China, pengoperasian roket hujan buatan karena mudahnya, dapat dilakukan oleh para petani sendiri tanpa melibatkan institusi resmi.
Dengan teknik yang sama dengan roket hujan buatan, diuji coba pula roket suar. Selama ini suar ditembakkan dengan pistol ke udara hingga mencapai ketinggian 100 meter. Adapun dengan menggunakan roket, suar dapat dilontarkan hingga mencapai jarak 1,2 kilometer ke udara. Penggunaan roket dengan muatan suar tersebut sudah merambah ranah keamanan, bukan hanya udara, tetapi juga persoalan kelautan.
Roket suar di harapkan dapat membantu pencahayaan saat penindakan pada malam hari ketika melakukan operasi penangkapan pelaku pencurian kayu, pencurian ikan, dan pencemaran laut di kawasan yang rawan, seperti di kawasan selat malaka dan selat Makassar. Penggunaan robot kendali ini bertujuan untuk mengarahkan parasut yang membawa instrumen atau muatan penting seusai separasi roket, agar muatan tersebut jatuh pada tempat yang aman.
REFERENSI : KOMPAS


