Rabu, 07 Oktober 2009

Pengenalan Sungai Citarum



Ci Tarum adalah sungai terpanjang dan terbesar di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sungai ini bermuara di Ujung Karawang. Karena banyaknya debit air yang dialirkan oleh sungai ini, maka pemerintah membuat tiga bendungan dan Pembangkit Listrik Tenaga Air(PLTA) di sungai ini:

  1. PLTA Saguling

  2. PLTA Cirata

  3. PLTA Ir. H. Djuanda atau yang dikenal dengan PLTA Jatiluhur

Dalam perjalanan sejarah Sunda, CiTarum erat kaitannya dengan Tarumanagara, kerajaan Sunda pada abad ke-4-7, yang kemudian menjadi batas antara kerajaan Sunda dan Galuh ketika dua kerajaan kembar ini tidak berada dalam satu kekuasaan.

Keadaan lingkungan sekitar Ci Tarum telah banyak berubah sejak puluhan tahun yang lalu. Industrialisasi yang pesat di kawasan sekitar sungai ini sejak akhir 1980-an telah menyebabkan menumpuknya sampah buangan pabrik-pabrik di sungai ini.

Selidik punya selidik, kondisi tersebut di atas adalah akibat dari ulah manusia yang tidak menyadari pentingnya menjaga dan melestarikan ekosistem lingkungan sungai. Dengan perilaku “asal buang” menjadikan kondisi air di sungai Citarum tercemar oleh limbah domestik, pertanian, peternakan, bahkan sentra ind ustri juga tidak ketinggalan peran sertanya dalam mengontaminasi kualitas air. Akibatnya, kondisi air bersih di sekitar warga sungai Citarum terancam keberbagaian masalah.

Setiap musim hujan di sepanjang Sungai Citarum di wilayah Bandung Selatan selalu dilanda banjir. Setelah Banjir besar yang melanda daerah tersebut pada tahun 1986, pemerintah membuat proyek normalisasi sungai Citarum dengan mengeruk dan melebarkan sungai bahkan meluruskan alur sungai yang berkelok. Tetapi hasil proyek itu sia sia karena sejak itu tidak ada sosialisasi terhadap masyarakat sekitar sehingga sungai tetap menjadi tempat pembuangan sampah bahkan limbah pabrik pun mengalir ke sungai Citarum. Sehingga sekarang keadaan sungai menjadi sempit dan dangkal, sampah dimana mana, warna airpun hitam pekat. akhirnya sampai kini setiap tahun di musim hujan wilayah Bandung Selatan selalu dilanda banjir, bahkan setiap tahun ketinggian banjir selalu bertambah. Apabila anda berkunjung ke Bandung selatan akan terlihat jelas keadaan Sungai Citarum saat ini.

Air adalah salah satu elemen terpenting bagi penunjang kehidupan warga masyarakat di tiap daerah. Kalau saja kondisinya tidak memenuhi standar yang layak untuk dikonsumsi, bisa jadi masyarakat sekitar sungai Citarum akan terkena dampak yang lebih luas karena miskinnya sumber daya air (water resources). Maka, dampak bagi warga sekitar juga akan terasa jelas memenuhi pandangan mata dengan terganggunya ranah kesehatan bahkan aspek sosial ekonominya.

Upaya penyelamatan Sungai Citarum, terutama di daerah hulu, kini sudah sangat
mendesak. Saat ini kondisi Sungai Citarum sudah dapat dikatakan darurat dan
memerlukan pemulihan secepatnya karena tingkat pencemarannya sudah sangat parah.
Degradisi kualitas daerah aliran sungai (DAS) Citarum itu terjadi akibat tidak
terkendalinya perkembangan industri, permukiman penduduk, dan pembabatan hutan
di sekitarnya.

Beban polutan dan daya dukung sungai Citarum

Mengetahui daya dukung dan daya tampung suatu lingkungan sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Makalah ini menjelaskan tentang status atau tingkat daya dukung dan daya tampung sungai Citarum terhadap beban polutan yang ditanggungnya. Daya tampung sungai Citarum dicerminkan oleh debit sungai Citarum. Sementara beban polutan ditentukan dari sumber limbah industri, pertanian, dan domestik (rumah tangga) dengan parameter BOD, COD, N Total dan P Total. Perhitungan total beban polutan dilakukan dengan analisis secara spasial menggunakan perangkat lunak MapInfo 8.0. Selanjutnya total beban polutan dibagi dengan debit sungai di titik Nanjung akan menghasilkan nilai konsentrasi polutan. Konsentrasi polutan tersebut kemudian dibandingkan dengan standar baku mutu yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tampung sungai Citarum (tahun 2001 maupun 2004) sudah terlampaui. Daya tampung yang sudah melampaui batas menyebabkan menurunnya daya dukung sungai Citarum. Selain meningkatnya jumlah polutan, kapasitas debit sungai sangat menentukan tingkat daya tampung dan daya dukung sungai Citarum.

Sungai Citarum Jawa Barat Tercemar

Sungai Citarum, dengan luas total sekitar 6.080 km2, panjang sungai sekitar 269 km. Curah hujan melingkupi Citarum sekitar: 2.300 mm/tahun. Air sungai Citarum dimanfaatkan sebagai sumber air baku air minum untuk Jakarta, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bandung, dan Kota Bandung; Sebagai pemasok air untuk 3 waduk, yaitu Waduk Saguling, Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur yang memasok listrik 5.000 gigawatthour/tahun.

Sungai Citarum, dengan luas total sekitar 6.080 km2, panjang sungai sekitar 269 km. Curah hujan melingkupi Citarum sekitar: 2.300 mm/tahun. Air sungai Citarum dimanfaatkan sebagai sumber air baku air minum untuk Jakarta, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bandung, dan Kota Bandung; Sebagai pemasok air untuk 3 waduk, yaitu Waduk Saguling, Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur yang memasok listrik 5.000 gigawatthour/tahun.

Selain itu, tidak menutup kemungkinan juga dengan kan dungan air yang tidak berkualitas, ekosistem air di sekitar sungai akan terancam punah dan dapat menurunkan kualitas produksi pertanian yang banyak memanfaatkan aliran sungai Citarum. Akibatnya, imbas pencemaran ini tidak hanya mengena aspek kesehatan lagi, melainkan sampai pada bertambahnya warga masyarakat miskin.


Selain menyebabkan bukit longsor hujan deras yang mengguyur wilayah Jawa Barat juga menyebabkan meluapnya Sungai Citarum, di Kabupaten Bandung. Luapan Sungai Citarum yang berendam rumah warga sejak Rabu (26/11/08) kemarin hari ini kian memperhatinkan.

Air dengan ketinggian sekitar 2 meter di Kampung Cieunteung, Kecamatan Bale Endah memaksa tim penyelamat sejak dinihari tadi mengevakuasi warga dengan perahu karet. Kampung Cieunteung yang terletak di Kecamatan Bale Endah, Kabupaten Bandung ini sudah hampir 1 bulan terendam air luapan air Citarum.

Hujan lebat yang turun hampir setiap hari membuat banjir juga tidak surut. Melainkan terus bertambah tinggi. Melihat ketinggian air yang mencapai 2 meter dan nyaris menggelamkan ratusan rumah tim penanggulangan bencana banjir Kabupaten Bandung sejak semalam hingga dinihari tadi terus melakukan evakuasi terhadap warga yang masih bertahan ditempat tinggalnya.

Persoalan air bersih

Tidaklah heran kalau fungsi air bersih posisinya bak bahan bakar minyak (BBM) yang harus dibeli warga dengan beberapa lembar uang ribuan. Kelangkaan air bersih di Kota Bandung , misalnya dapat dilihat dari keluhan warga yang merasa terbebani dengan pembelian air bersih kepada para pengecer. Biang keladi langkanya air bersih ini ternyata lebih banyak akibat bermunculannya pabrik-pabrik yang memprivatisasi air bersih untuk kebutuhan perusahaan.

Celakanya lagi, pabrik di sekitar sungai Citarum yang berjumlah ratusan itu cenderung hanya ingin mengambil keuntungan materi dengan biaya murah meriah dan pemasukan yang “wah”. Tanpa berpikir bahwa ketika aliran sungai dijadikan sarang pembuangan limbah akan mengakibatkan rusaknya ekosistem lingkungan sungai. Para pengusaha pun tidak menyadari bahwa wargalah yang akan merugi. Sebab kalau lingkungan rusak, maka sungai Citarum tidak bisa berproduksi hingga akhirnya tidak bermanfaat bagi warga.

referensi:

id.wikipedia.org
www.ftsl.itb.ac.id
www.antaranews.com
opac.geotek.lipi.go.id
www.detiknews.com


Link Powerpoint :


http://www.scribd.com/full/20737386?access_key=key-23xe7wxq61sm3ibzdcs6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar