Selasa, 01 Desember 2009

HUBUNGAN LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN


HUBUNGAN LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN

Sebagai salah satu negara dengan kekayaan dan keragaman alam serta budaya yang luar biasa, patutlah kalau Indonesia dikatakan sebagai negara mega biodiversity kedua setelah

Brazil. Dengan luas daratan sebesar “hanya” 1,5% dari seluruh luas permukaan Bumi ini,

Indonesia merupakan tempat yang menyumbangkan lebih dari 10% tumbuh-tumbuhan di

dunia, lebih dari 10.000 spesies pohon tegak di dunia, dan sekitar 25.000 sampai 30.000

spesies tumbuhan berbunga.

Indonesia memang benar-benar satu negara mega biodiversity yang luar biasa dan

tentunya perlu disyukuri. Namun pada saat yang sama perlu diingat dan terus

dikumandangkan dengan lantang bahwa telah terjadi berbagai kerusakan dan degradasi

yang luar biasa dan mengancam keberlanjutan Indonesia. Di sektor kehutanan telah

terjadi deforestasi yang meningkat dalam beberapa dekade ini. Seperti dilaporkan oleh

Bank Dunia (2003) dan Departemen Kehutanan, tingkat deforestasi di Indonesia telah

mencapai lebih dari dua juta hektar per tahun. Secara total, luas hutan kita mengalami

pengurangan yang sangat signifikan.

Apabila pada tahun 1950, terdapat 162 juta hektar hutan di Indonesia, pada tahuan 1985,

hutan kita tinggal 119 juta hektar. Angka ini terus mengalami penyusutan, karena pada

tahun 2000, hutan Indonesia tinggal 96 juta hektar. Apabila tingkat kehilangan hutan ini

terus terjadi sebesar 2 juta hektar per tahun, dalam kurun 48 tahun ke depan, seluruh

wilayah Indonesia akan menjadi gurun pasir yang gundul dan panas.

Pembangunan Berkelanjutan dan Kearifan Lingkungan

Sebenarnya apakah akar penyebab krisis lingkungan hidup di Indonesia? Telah diketahui,

ideologi pembangunan yang materialistik selama ini telah mendorong proses

pembangunan yang luar biasa. Capaian pembangunan materialistik juga harus diakui

membawa banyak manfaat. Namun, perlu diakui pula capaian pembangunan ini belum

membawa kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Bahkan cenderung terjadi gap yang

dalam dan lebar antara mereka yang over consumption dan mereka yang under

consumption. Dari perspektif ini, menjadi penting kemudian melihat kembali etika dan

kearifan lingkungan sebagai dasar dari proses pembangunan.

Ada dua pandangan ekstrem etika lingkungan yang dapat dipertentangkan. Pertama, biasa

dikenal dengan pandangan anthropocentris yang menekankan bahwa manusia sebagai

subjek utama dunia dan harus mendapat prioritas dalam pemanfaatan lingkungan dan

sumber daya. Perspektif ini melihat, proses pembangunan dan implikasi terhadap

lingkungan dipandang sebagai satu keniscayaan, sejauh proses tersebut diperuntukkan

bagi kesejahteraan manusia. Pandangan ini mewarnai dan menjiwai proses pembangunan

yang eksploitatif selama ini. Sering pula digunakan sebagai alat justifikasi setiap

keputusan pembangunan yang dilakukan manusia. Dalam banyak kasus, pandangan ini

juga dipakai manusia untuk menjustifikasi motif dan tindakan serakahnya. Jelas ini

berdampak pada kerusakan lingkungan.

Pembangunan berkelanjutan sesungguhnya merupakan wacana moral dan kultural. Hal

ini disebabkan karena yang menjadi persoalan utama adalah pada bentuk dan arah

peradaban seperti apa yang akan dikembangkan manusia di Bumi ini. Kearifan

lingkungan lokal, sekaligus plural perlu terus dikembangkan. Tetapi tidak hanya

diposisikan sebagai upaya untuk ”melawan” kecenderungan globalisasi dan westernisasi,

melainkan satu ”pilihan”. Dengan kata lain, pengembangkan kearifan lingkungan tidak

selalu harus ”dibenturkan” globalisasi/westernisasi, karena dia adalah ”keyakinan”

sekaligus ”pilihan-pilihan” sadar tiap kelompok manusia di Bumi untuk mengembangkan

peradaban yang plural, sekaligus identitas yang beragam.

Referensi : www.burung.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar